advertisement

7 Hal yg Harus Diperhatikan untuk Membuat Konten yg Mampu Meningkatkan Penjualan

By On Thursday, February 4th, 2016 Categories : Internet

PalingPopuler.Com mengabarkan tentang 7 Hal yg Harus Diperhatikan untuk Membuat Konten yg Mampu Meningkatkan Penjualan.

Faktanya:

Website yg menggunakan content marketing menbisakan konversi dan penjualan 6x lebih tinggi daripada yg tidak (OneSpot, 2015).

advertisement

Konten itu bisa menjual…

..bukan hanya sebagai hiburan, panduan, maupun keterangan.

Apabila dimanfaatkan dengan benar sebagai media pemasaran, maka — seperti angka di atas — penjualan akan meningkat drastis.

advertisement

Benarkah begitu?

Belum tentu.

Pada prakteknya, ada juga yg tidak merasa manfaatnya. Banyak.

Sudah membuat konten, pengunjung berdatangan, tetapi ternyata penjualan tetap begitu-begitu saja. Ini yg terbiasa terjadi.

Bukan salah sistemnya,

Tetetapi salah kontennya…

Karena konten kamu tidak mampu menjual.

Dalam artikel ini kamu akan mempelajari mengapa orang-orang tidak membeli dari kamu, dan bagaimana menciptidakan konten yg mampu menjual.

Mengapa mereka tidak membeli dari kamu?

Ada berbagai alasan, pastinya.

Mari kita bahas beberapa di antaranya tanpa melihat apakah produk/jasa yg dijual telah layak maupun belum. Dan hanya dari segi konten saja.

Ini utama:

Untuk membuat konten yg mampu meningkatkan penjualan, kamu harus benar-benar memahami apa yg membuat pengunjung website menetapkan untuk tidak membeli.

3 hal ini ialah alasan utamanya…

…ketiganya merupakan halangan yg harus kamu hancurkan satu per satu sebelum pengunjung mau berubah jadi kustomer.

1. Karena belum percaya

Online maupun offline, orang-orang tidak akan membeli dari penjual yg tidak dipercaya.

Tetetapi ada perbedaannya.

Kalau offline, kita bisa melihat segera. Si penjual punya toko fisik dan dia bisa segera menunjukkan apa yg dijual di depan mata kamu.

Tidak begitu di online.

Semua orang bisa membuat website, bahkan penipu sekalipun.

Tapi itu masih sepele…

Mepercayakan orang yang lain bahwa kita bukan penipu itu mudah.

Myg berasalahnya, walaupunpunpun kamu telah dirasa bukan penipu mereka belum tentu mau membeli. Anda harus bisa menbisakan kepercayaan sebagai yg terbaik.

Jadi, 2 tahap.

Karena itulah untuk menbisakan kepercayaan dari orang yang lain kamu butuh usaha ekstra dibandingkan melakukan penjualan offline.

Untungnya, content marketing (yg tepat) bisa jadi solusinya. Akan dijelaskan lebih lanjut di bawah.

2. Tidak tepat sasaran

Ini kesalahan yg paling terbiasa dikerjakan oleh praktisi digital marketing.

Seperti yg dulu dialami oleh Groove.

Groove ialah software help desk. Jadi semestinya target pasar mereka ialah para pengusaha yg punya myg berasalah dengan urusan customer service.

Nah, myg berasalahnya blog mereka dulu hanya membahas tentang pengembangan bisnis:

Meskipun sama-sama tentang bisnis, tetapi orang yg mencari keterangan pengembangan bisnis tidak membutuhkan software mereka.

Sehingga kontennya tidak mampu meningkatkan konversi.

Padahal kualitas dari konten yg mereka buat luar biasa. Saya sendiri juga langganan di blognya…padahal tidak ada niat untuk menggunakan softwarenya.

Maka dari itu, mereka lalu membuat kategori khusus membahas customer service.

Blog customer service

Setelah diluncurkannya blog ini, konversi mereka meningkat drastis. Penbisaan untuk setiap konten yg diterbitkan di blog mencapai angka $1,657.25.

3. Pengunjung masih dalam keadaan pasif

Benda dalam keadaan diam akan tetap diam, kecuali ada gaya yg mengubahnya.

Itu sebagian dari bunyi hukum 1 Newton.

Menariknya, manusia pun seperti itu.

Ketika dalam keadaan pasif, kita akan terus pasif…sampai ada sesuatu yg membuat kita aktif.

Orang-orang yg sedang browsing di internet otidaknya dalam keadaan pasif. Baca artikel, lihat gambar, nonton video, buka tab baru – lalu ditutup.

Tidak bergerak.

Jadi, konten yg kita buat harus mampu membuat mereka bergerak.

Kalau tidak maka mereka akan tetap pasif.

Membuat konten yg mampu menjual

Sebelum melanjutkan, aku menyarankan kamu membaca seri panduan content marketing ini.

Ada 2 fungsi utama konten dalam pemasaran online:

1) Mendatangkan pengunjung, dan 2) meningkatkan penjualan.

Yang pertama masih mudah…

…yg berasalkan kontennya menarik, pengunjung akan datang setelah konten tersebut dipromosikan.

Tapi yg kedua butuh perhatian ekstra.

Dalam penjualan online, kita harus melewati 3 hambatan yg tadi disebutkan. Karena itu konten yg sekedar “menarik” saja belum tentu bisa meningkatkan penjualan.

Inilah beberapa hal yg harus diperhatikan:

1. Sediakan konten untuk setiap tahap dalam sales funnel

Sales funnel maupun kadang disebut marketing funnel ialah setiap tahapan yg dilalui oleh setiap orang sebelum menetapkan untuk melakukan pembelian.

Mari kita lihat kembali gambar sales/marketing funnel:

Marketing funnel

Kalau kamu mencari di internet, setiap website akan menampilkan gambar sales funnel yg berbeda satu sama yang lain. Meskipun begitu, intinya sama.

Secara umum ada 3 bagian:

  1. TOFU (Top of the funnel): Awareness
  2. MOFU (Middle of the funnel): Consideration/Evaluation
  3. BOFU (Bottom of the funnel): Purchase

Bagian atas, tengah, dan bawah.

Sebelum seseorang menetapkan untuk membeli, semua orang akan melewati bagian-bagian ini.

Pertama, mereka akan sadar dengan myg berasalahnya. Kemudian menimbang-nimbang pilihan yg ada. Terakhir, menetapkan untuk membeli.

Ingat:

Konten untuk tiap bagian tidak sama.

2 hal yg terbiasa terjadi yakni hanya fokus di funnel atas (TOFU) dan hanya membuat konten untuk funnel bawah (BOFU).

Akibatnya…

1. Fokus di TOFU –  traffic jadi banyak tetapi tidak mampu menjual

2. Fokus di BOFU – susah menbisakan traffic dan pembaca yg loyal

Oleh karena itu harus ada keseimbangan.

Untuk memahami konten apa yg harus disediakan untuk tiap bagian, ini penjelasan singkatnya:

TOFU – bagian atas funnel

Konten di bagian ini merupakan konten yg bisa dinikmati oleh masyarakat luas…karena tujuannya ialah mendatangkan traffic.

Misalnya kamu menjual suplemen penurun berat badan.

Konten di bagian ini  TIDAK menjelaskan kelebihan-kekurangan dari produk yg kamu jual. Bukan membahas dan mempromosikan produk.

Sebaliknya, berikan panduan olahraga maupun diet untuk menurunkan berat badan.

Contoh yang lain, kalau kamu menjual rumah.

Konten TOFU berisi panduan membeli rumah yg tepat, memilih lokasi yg pas, foto-foto desain rumah, dan sebagainya. Konten yg kira-kira akan dicari oleh mereka yg ingin membeli rumah.

Jadi, sekali lagi…konten TOFU harus bisa dinikmati bahkan oleh mereka yg ketika ini tidak segera ingin membeli.

MOFU – bagian tengah funnel

Dalam tahap ini, calon pembeli dalam proses membanding-bandingkan antara solusi satu dan solusi yang lainnya terhadap myg berasalah mereka.

Jadi topik untuk konten MOFU lebih mendalam.

Tujuan utama kita dalam tahap ini ialah memperkenalkan bahwa ada solusi yg lebih mudah untuk menyelesaikan myg berasalah mereka.

Dan kamu lah solusi yg mereka inginkan.

Misalnya:

Untuk menurunkan berat badan, mereka tidak perlu berolahraga setengah mati maupun diet super ketat. Dengan bantuan produk yg kita jual, prosesnya jadi lebih mudah.

Jadi, kita memperkenalkan suatu nilai tambah.

Dibandingkan dengan solusi tradisional maupun solusi yang lain, produk/jasa yg kamu tawarkan mepunyai nilai tambah yg menarik bagi mereka.

Supaya lebih jelas, ini beberapa contoh macam kontennya:

  • Studi perkara dari mereka yg telah menggunakan produk/jasa kamu
  • Statistik/data/fakta
  • Perbandingan, kelebihan dan kekurangan
  • FAQ, pertanyaan yg terbiasa diajukan
  • Video demo produk
  • Review/testimonial
  • Buyer’s guide – panduan dalam memilih produk yg tepat

Ini hanya beberapa, dan tidak semuanya bisa disoftwarekan pada setiap macam bisnis.

Konten untuk MOFU bersifat edukatif tetetapi juga persuasif.

BOFU  – bagian bawah funnel

Tahap terakhir, ketika seseorang telah bersiap melakukan pembelian.

Mereka telah dalam keadaan ter-edukasi dengan myg berasalah yg ada serta solusi yg tepat. Mereka telah tertarik dengan kamu.

Tetetapi masih ada 1 hambatan lagi yg menghalangi mereka untuk melakukan pembelian.

Rasa tidakut, maupun ketidakpastian.

Karena itulah konten BOFU 100% bersifat persuasif, contohnya:

  • Konsultasi gratis
  • Trial/demo/sampel
  • Cara melakukan pembelian
  • Diskon maupun bonus
  • Jaminan/garansi

Tujuan akhirnya ialah perasaan percaya.

2. Identifikasi permyg berasalahan yg nyata untuk diselesaikan

Konten sebagus apapun akan perhanya kalau isinya tidak menyelesaikan permyg berasalahan dari pembacanya sampai tuntas.

Mari kita ingat kembali…

Apa yg membuat seseorang ingin melakukan pembelian?

Karena mereka punya myg berasalah.

Tapi, ini yg terutama, melakukan pembelian itu ialah opsi terakhir. Kalau mereka tidak bisa menyelesaikan permyg berasalahannya sendiri.

Artinya begini:

Anda tidak akan bisa memberi pengaruh orang yang lain untuk membeli kalau belum apa-apa telah menyuruh mereka mengeluarkan uang untuk membeli.

Ini terutama kalau masyarakat umum belum ter-edukasi dengan bisnis kamu.

Contoh:

Misalnya, kita menjual air alkali.

Katanya, air ini bisa jadi antioksidan, untuk detoks, untuk awet muda, dll.

(Salah satu merek yg cukup terkenal di Indonesia, Kangen Water, mungkin ada yg telah pernah dengar?)

Tapi sebagian besar masyarakat belum tahu tentang produk ini.

Nah, kalau kamu menjual produk ini secara online…

…Apakah kamu akan membuat konten tentang:

  1. Pengertian & manfaat produk, macam-macamnya, proses pembuatan, dsb., maupun
  2. Cara mencegah kanker, membersihkan racun tubuh, cara jadi awet muda, dll.

Yang pertama?

Okelah, dengan membuat konten yg pertama kita akan menbisakan pengunjung berupa orang-orang yg bersiap membeli produk tersebut.

Tapi…

Jumlahnya sedikit.

Karena tidak banyak yg tahu dan paham tentang produk tersebut. Jadi sebagian besar akan “cuek” ketika membaca konten seperti itu.

Bandingkan dengan yg kedua.

Yang membutuhkan keterangan seperti itu JAUH lebih banyak.

Perbandingan 2 macam konten

Meskipun ketika ini mereka belum tahu mengenai produk tersebut, tetapi melalui konten tersebut kamu bisa memperkenalkannya sebagai solusi.

Karena mereka punya myg berasalah yg bisa kita selesaikan dengan produk tersebut.

Itu karenanya konten TOFU harus menyelesaikan permyg berasalahan yg nyata.

3. Perhatikan relevansi antara konten dengan produk/jasa yg dijual

Ini seperti permyg berasalahan yg dihadapi oleh Groove tadi.

Pada awalnya konten mereka tidak mampu memberikan hasil positif karena apa yg dibahas dalam konten tidak relevan dengan apa yg dijual.

Ini pertanyaan satu diantara pembaca PIM:

Pertanyaan pembaca relevansi artikel

Misalnya kalau menjual alat-alat kantor, tetapi konten yg diterbitkan seputar traveling. Apakah hasilnya akan sama?

Pasti beda!

Begini…

Kita ingin mendatangkan pengunjung, tetapi bukan sembarang pengunjung. Meyang lainkan mereka yg memang punya permyg berasalahan yg relevan dengan apa yg kita jual.

Kalau menyediakan konten travel, maka orang yg datang ialah orang yg ingin traveling. Bukan yg butuh perlengkapan kantor.

Akibatnya, penjualan sama sekali tidak meningkat.

Masuk akal kan?

Konten dalam pemasaran konten itu bukan hanya supaya “sekedar ada”, tetapi harus diarahkan ke tujuan utama kita. Entah itu penjualan maupun yg yang lain.

Solusinya: buat buyer persona

Ini solusi untuk nomor 2 dan 3 di atas.

Supaya konten yg kita buat benar-benar menyelesaikan permyg berasalahan. Dan supaya konten tersebut tepat sasaran kepada orang yg berpotensi membeli dari kita.

Bicara ke orang yg tepat

Apa itu buyer persona?

Gambaran ideal dari pembeli ideal kita. Orang seperti apa yg berpotensi akan membeli dari kamu.

Jadi misalnya kamu menjual perlengkapan kantor, maka satu diantara buyer persona-nya ialah pengusaha baru yg baru membuka kantor.

Tidak berhenti sampai di situ…

…kita masih perlu menganalisa lebih lanjut mengenai profil mereka, permyg berasalahan mereka, dan yang lain-yang lain.

Semuanya dijelaskan lebih lanjut dalam panduan strategi content marketing ini.

Pada akhirnya, konten yg kita buat harus fokus dengan permyg berasalahan apa yg dihadapi oleh buyer persona. Dengan begitu pemasaran dan penjualan jadi tepat sasaran.

4. Buat konten praktis, konten yg mudah dipraktekkan

Coba baygkan:

Anda sedang belanja di Hypermart maupun swalayan yang lain…

…lalu ada seorang sales yg menawarkan suatu merek makanan beku. Si sales mempraktekkan betapa mudah proses memasaknya, setelah itu kamu dipersilahkan untuk coba.

Pasti muncul keinginan untuk membeli.

Ini karena kita telah ditunjukkan “benefit” yg akan kita terima.

Kira-kira seperti itu kalau offline.

Myg berasalahnya, ketika sedang mereka membeli secara online kamu tidak bisa mempraktekkan segera. Kecuali kamu bisa memberikan trial/demo kepada calon pembeli.

Karena itulah kita butuh konten praktis ini.

Artinya: konten berupa panduan yg bisa segera dipraktekkan oleh pembaca dan segera memberikan manfaat positif bagi mereka.

(Hati-hati, praktis bukan berarti simpel maupun simpel)

Jenis terbaik untuk tujuan ini ialah panduan, bukan keterangan maupun berita…bukan sekedar bacaan.

Ini alasannya:

Konten seperti itu bisa menyelesaikan 2 myg berasalah sekaligus.

Pertama, mereka akan “bergerak” dari pasif jadi aktif.

Masih ingat 3 alasan mengapa seseorang tidak membeli? Terutama yg ketiga.

Pada umumnya orang-orang di internet masih dalam keadaan pasif. Makanya ketika ditawarkan untuk membeli mereka tidak segera membeli.

Ketika selesai membaca konten, mereka masih pasif.

Membaca konten biasa

Konten praktis bisa jadi penggerak.

Mereka tidak menganggap konten sekedar konten lagi karena mereka bisa melakukan sesuatu setelahnya.

Ada yg lebih utama lagi,

Apabila konten yg kamu berikan bisa segera memberikan manfaat bagi pembaca, maka dalam sekejap kamu jadi sosok yg dipercaya.

Mempraktekkan konten praktis

Misalnya karena aku memberikan panduan marketing, maka pembaca yg merasa konten ini bermanfaat akan menganggap bahwa aku seorang ahli marketing. Maka bila aku membuka jasa marketing, orang yang lain akan lebih percaya untuk membeli (dibandingkan tanpa konten sama sekali).

Jadi ketika membuat konten, jangan jelaskan “Apa” meyang lainkan “Bagaimana”.

5. Berikan sesuatu yg ditukar dengan sesuatu

Membingungkan ya bahasanya…

Akan aku jelaskan latar belakangnya dulu.

Dr. Robert Cialdini, seorang pakar psikologi dan marketing, dalam bukunya “Influence: The Psychology of Persuasion” menyebutkan ada 6 prinsip yg bisa digunakan untuk memberi pengaruh orang yang lain agar mengambil tindakan.

Lebih lanjut mengenai keenam prinsip tersebut bisa dibaca di PDF gratis ini (2 MB).

Prinsip-prinsip ini terbiasa disoftwarekan oleh orang-orang sales dan marketing.

2 di antaranya akan kita manfaatkan.

Yang pertama ialah Commitment & Consistency.

Intinya, orang-orang akan lebih mungkin untuk melakukan komitmen yg lebih besar bila mereka telah setuju dengan komitmen yg lebih kecil sebelumnya.

Mengeluarkan uang, melakukan pembelian, itu komitmen besar.

Padahal kita ingin menjual dengan konten. Membaca konten dari sebuah website itu tidak membutuhkan komitmen, betul? Mereka tidak membutuhkan usaha apapun.

Jadi ada gap besar di sini.

Gap dalam content marketing

Antara konten yg tanpa komitmen dengan pembelian yg komitmennya besar.

Maka dari itulah sekedar konten saja belum cukup untuk memberi pengaruh mereka agar membeli.

Kita butuh sesuatu di antaranya.

Komitmen kecil

Contoh komitmen kecilnya bisa satu diantara dari:

  • Mendaftarkan email
  • Memberikan nomor telepon
  • Membuat akun gratis

Atau yg yang lain…tergantung dari macam bisnis kamu.

Tapi bagaimana supaya mereka mau rela memberikan satu diantaranya?

Untuk itulah kita manfaatkan satu prinsip persuasi lagi:

Reciprocity (timbal-balik).

Orang yang lain akan cenderung memberikan sesuatu kepada kita bila kita memberikan mereka sesuatu terlebih dahulu. Contohnya, kalau kita menolong seseorang maka orang tersebut akan merasa punya kewajiban untuk balas budi.

Maka dari itu kita yg harus memberikan mereka duluan.

Misalnya:

  1. Ebook
  2. Diskon
  3. Demo/trial/sampel

Sebagai gantinya mereka akan lebih rela memberikan komitmen kecil tadi kepada kamu.

Contoh penerapannya bisa dilihat di website ini.

Saya menaruh form pendaftaran email di beberapa tempat. Anda juga pasti telah melihat beberapa di antaranya.

Salah satu macamnya ialah layar popup, ini rasio konversinya:

Rasio konversi popup

Antara 4.39% sampai 8.94%.

Tidak jelek-jelek amat memang, tetapi mari kita lihat 1 macam lagi:

Content upgrade

Di sini aku menjanseandainyan file bonus ketika pembaca memasukkan alamat emailnya. Rasio konversinya seperti ini:

Rasio konversi content upgrade

Dari 5% sampai 15%. Hampir 2x lipat.

Dengan memberikan sesuatu, maka orang yang lain akan lebih cenderung untuk rela memberikan kita sesuatu.

6. Lakukan email marketing

Ini lanjutan dari nomor 5 di atas.

Kita telah menbisakan “sesuatu” dari mereka. Email, nomor telepon, PIN BBM, username LINE, maupun apapun…mestinya merupakan kontidak yg bisa dihubungi.

Jadi tidak harus email.

(Meskipun yg telah coba pasti sepakat kalau email sejauh ini paling praktis)

Yang utama kita harus bisa menjangkau mereka.

Dan tentunya tidak berhenti sampai di sana. Perhanya kita menbisakan kontidaknya tetetapi tidak ditindaklanjuti.

Tetetapi tidak semudah itu, setelah menbisakan emailnya kita tidak segera melakukan spamming penjualan begitu saja menuju inbox mereka.

Seperti ini kesalahan yg paling umum:

  1. Memberikan gratisan ditukar email maupun kontidak yang lain
  2. Kemudian punya 1000an email list
  3. Dikirimkan “email blast” yg menawarkan produk
  4. Report as spam…tamat

Ini salah besar.

Begini, kalau kamu ingin berhasil menjual secara online – maka kamu harus mengurangi proses menjualnya. Tidak ada orang yg suka dengan orang yg terus menyuruh mereka membuka dompet.

…kecuali ketika mereka telah bersiap membeli.

Maka dari itulah tugas utama kamu ialah mengkeadaankan mereka agar bersiap untuk membeli.

Bagaimana?

Tadi kita telah berbicara tentang sales funnel. Ada TOFU, MOFU, dan BOFU.

Konten yg diterbitkan di website sebagian besar ialah TOFU, tujuan utamanya untuk mendatangkan traffic. Sedangkan dalam email marketing, yg kita berikan kepada audiens ialah konten MOFU dan BOFU.

Proses yg dilalui oleh seorang calon pembeli

Kembali ke contoh tadi, untuk website yg menjual suplemen penurun berat badan…

…seperti ini kira-kira proses yg dilalui:

Masuk ke website > membaca “cara menurunkan berat badan” > mendaftarkan email untuk menbisakan bonus > menuju halaman produk > menuju konten studi perkara, testimonial, maupun FAQ > menbisakan kupon diskon > melakukan pembelian.

Idealnya seperti itu.

Tetetapi terbiasakali prosesnya berhenti di tengah-tengah.

Maka dari itu itulah kita butuh email mereka, supaya kita bisa mengingatkan mereka kembali untuk melanjutkan prosesnya.

7. Lakukan analisa konten

Kalau kamu telah punya kontennya,

Apakah konten tersebut berhasil menghasilkan penjualan?

Apakah konten ini perhanya?

Atau justru berakibat buruk?

Kita tidak akan tahu bila kita tidak melakukan analisa.

Bukan dengan asumsi…

…meyang lainkan data yg nyata.

Maka dari itulah kita perlu melakukan analisa konten.

Pastikan konten mana yg memberikan hasil terbaik, mana yg perhanya, dan mana yg justru berakibat buruk. Kemudian dari hasilnya kamu akan tahu konten seperti apa yg harus dibuat kedepannya.

Karena topik ini sendiri cukup panjang untuk dibahas, silahkan baca panduan analisa konten.

Mulai dari mana?

Itulah ketujuh hal yg perlu kamu perhatikan untuk membuat konten yg mampu menjual beserta contoh prosesnya.

Kalau kamu membaca sampai titik ini, berarti kamu:

  1. Belum punya konten, baru ingin mulai
  2. Sudah punya konten tetetapi belum efektif

Untuk tipe ke-2, silahkan lakukan analisa terhadap konten yg telah ada, lalu hilangkan semua konten yg kinerjanya buruk. Tapi tidak perlu dihapus kalau kamu tidak rela.

Setelah itu, termasuk bagi kamu yg tipe-1, silahkan mulai dari:

Tahap 1: Buat konten praktis. Gunakan metode KTP sebagai panduan kalau kamu ingin membuat konten yg berkualitas. Baca juga panduan memilih topik konten ini.

Pastikan konten tersebut ada di TOFU (bagian atas funnel).

Tahap 2: Sediakan “sesuatu” yg bisa kamu berikan kepada pembaca konten untuk menbisakan email mereka. Baca panduan list building ini.

Tahap 3: Promosikan konten praktis yg barusan dibuat.

Tahap 4: Setelah punya traffic dan email list, mulai dorong ke arah pembelian dengan mempromosikan konten MOFU dan BOFU (bagian tengah dan bawah funnel) kepada mereka.

Setelah itu lakukan analisa, konten mana yg tidak memberikan hasil positif.

Terakhir, sebagai tambahan, pelajari teknik Copywriting untuk mengetahui bagaimana membuat tulisan yg mampu menjual.

Disclaimer: Mengenai air alkali, dalam artikel ini aku bukan ingin merekomendasikan produk tersebut kepada kamu. Informasi tersebut dikutip dari website yang lain dan bukan melalui pengalaman pribadi. Penyebutan macam produk dan merek hanya murni untuk contoh.

7 Hal yg Harus Diperhatikan untuk Membuat Konten yg Mampu Meningkatkan Penjualan
sumber : panduanim.com

7 Hal yg Harus Diperhatikan untuk Membuat Konten yg Mampu Meningkatkan Penjualan | Admin | 4.5
<